BMKG Mendadak Bunyikan Tanda Bahaya di Indonesia, Semua Masyarakat Harap Waspada!

Maduraterkini.net, Jakarta– Badan Meteorologi, Klimatolog dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan rilis potensi cuaca ekstrem.

Sehingga berdasarkan analisis terkini bahwa kondisi dinamika atmosfer di wilayah Indonesia masih cukup signifikan berpotensi mengakibatkan peningkatan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah dalam sepekan kedepan.

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc. Ph.D. Kepala BMKG saat zoom meeting menjelaskan bahwa dari hasil analisis dinamika atmosfer terkini menunjukkan adanya sirkulasi siklonik yang membentuk pola belokan angin serta perlambatan kecepatan angin yang dapat meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan.

Baca Juga :  Laka Maut Di Pamekasan, Warga Bluto Sumenep Meninggal Di TKP
“Karena aktifnya fenomena gelombang atmosfer seperti Madden Jullian Oscillation (MJO) yang berinteraksi dengan gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin juga secara tidak langsung dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya saat Zoom Meeting, Sabtu (08/10/2022) malam.

Menurutnya, potensi pertumbuhan awan cumulonimbus (CB) di wilayah udara Indonesia pada tanggan 08-14 Oktober 2022 yaitu Awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan maksimum antara 50-75% selama 7 hari kedepan diprediksi terjadi di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, Laut Sulu, Laut Filipina, Samudera Hindia selatan Pulau Jawa hingga barat Pulau Sumatra, Sebagian kecil Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, dan Pulau Papua, Sebagian besar Pulau Kalimantan, Kepulauan Maluku, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Seram, Laut anda, Laut Aru, Samudra Pasifik Utara Pulau Papua.

“Sementara Awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan >75% selama 7 hari kedepan diprediksi terjadi di: Laut Cina Selatan,” jelasnya.

Sedangkan Gelombang tinggi juga berpotensi terjadi mulai 08-14 Oktober 2022 dapat terjadi di wilayah perairan Indonesia diantaranya tinggi gelombang 2.5 – 4.0 m terjadi di Perairan utara Sabang, Perairan barat Aceh, Perairan barat P. Simeulue hingga Kep. Mentawai, Perairan P. Enggano – Bengkulu, Perairan barat Lampung, Samudra Hindia barat Sumatra, Selat Sunda bagian barat dan selatan, Perairan selatan Banten hingga Jawa Timur, Selat Bali – Lombok – Alas bagian selatan, Selat Sumba bagian barat, Perairan selatan Bali hingga P. Sumba, Samudra Hindia selatan Banten hingga P. Sumba, Laut Natuna.

Baca Juga :  Program Sosial Karimata Selama Bulan Ramadan
BMKG juga merilis petensi hujan sedang hingga deras pada periode 09-15 Oktober 2022 dapat terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua

Sementara itu untuk periode 3 (tiga) hari kedepan mulai 08 – 10 Oktober 2022), berdasarkan Prakiraan Berbasis dampak wilayah berpotensi hujan deras dengan kategori siaga dan perlu dibawaspadai diantaranya, sebagian wilayah Aceh, sebagian wilayah Banten, sebagian wilayah DKI Jakarta, sebagian wilayah Jawa Barat, sebagian wilayah Jawa Tengah, sebagian wilayah Jawa Timur, sebagian wilayah Kalimantan Barat dan sebagian wilayah Sulawesi Tengah.

Oleh karenanya ia meminta kepada pihak terkait untuk memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan serta melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan pohon yang tidak terkontrol serta melakukan program penghijauan secara lebih masif.

Baca Juga :  Pohon tumbang Ganggu Jalan di Pragaan, BNPB dan Forpimka Turun Tangan
Melakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang dan menggencarkan sosialisasi, edukasi, dan literasi secara lebih masif untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian Pemerintah Daerah, masyarakat serta pihak terkait dalam pencegahan/pengurangan risiko bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang, puting beliung dan gelombang tinggi).

Lebih mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar pihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometrorologi, kemudian terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG.(YL/ADM)